You Are Reading

1

Kura-Kura VS Kupu-Kupu

Unknown Senin, 02 April 2012 ,


Bila Kura-kura Vs Kupu-kupu melakukan pertandingan lari, maka hal pertama yang akan melintas di pikiran semua orang pastilah si Kura-kura akan kalah dan Kupu-kupu keluar sebagai pemenang. Namun bila kita meluangkan beberapa detik  untuk berpikir dan melakukan PK (Peninjauan Kembali) terhadap pernyataan tersebut, ternyata masih banyak opsi lain yang dapat diungkap, terutama kenyataan bahwa kupu-kupu lebih kecil dari kura-kura dan mengingat yang diperlombakan saat ini adalah kemampuan berlari dengan kaki dan  bukan 'terbang'. Belom pernah lihat kupu-kupu jalan kan? Entah itu karena terbang lebih asik dari pada jalan sehingga membuat mereka enggan melakoninya. Nah, jalan saja udah mogok, apalagi di suruh berlari? Kemungkinan kura-kura menang sekarang tidak menjadi 0% lagi. Demikian juga kalau dianalogikan dengan sesuatu yang akan kita capai, bila ada usaha, apalagi ada wadah, ditambah dengan keinginan, bisa saja suatu keberuntungan berpihak pada kita.

Sama juga dengan penulis, saat beban organisasi serasa menghimpit raga dengan kesibukannya, tak ayal membuat jiwa jadi iskemik dan berlanjut menjadi nekrosis yang berujung dengan kehilangan fungsi normalnya. Saat itulah raga menjadi hampa tanpa ada yang menemani, terhuyung mengikuti arus deras dan gugur dalam kerapuhannya. Kura-kura dan kupu-kupu berubah menjadi kambing hitam dengan mudah.

Paradigma kebanyakan mahasiswa sepertinya sudah memberikan batasan untuk kedua kategori tersebut dengan melabelinya. Kura-kura, aktif organisasi, akademik 'madesu', tapi sosialisasi oke. Kupu-kupu, aktif belajar, akademik oke, sosialisasi hancur. Nah, kata-kata inilah yang menggelitik relung penulis untuk mengemukakan pendapat dan ingin mencurahkan sedikit pengalaman pribadi.

Konon katanya, kura-kura (kuliah rapat-kuliah rapat) adalah spesies mahasiswa yang hampir seluruh sisa hidupnya (selain di kelas) dihabiskan untuk memberikan kontribusi besar yang dalam pandangan beberapa mahasiswa apatis keorganisasian adalah sia-sia. Bekerja keras untuk menghidupkan suasana kampus dengan segala orasi mahasiswa yang mungkin sebagian besar orang mengatakan sia-sia. Terlalu sok sibuk dengan moto 'agent of change' yang disandangnya sehingga melupakan hakikat diri sebagai mahasiswa yang harus BELAJAR menuntut ilmu.

Selanjutnya ada kupu-kupu (kuliah pulang-kuliah pulang). Nah, katanya sih ini spesies yang paling di sukai orang tua. Habis kuliah langsung pulang, enggak pergi kemana-mana atau istilahnya enggak neko-neko. Identik dengan suka belajar dan sering digembar-gemborkan punya Indeks Prestasi (IP) yang melangit menggapai bintang. Halah. Tapi sayangnya sih sebagian besar orang menganggap tindakan mereka sangat apatik dan sudah tak dapat ditolerir. Ibaratnya itu seperti penyakit kronik yang sudah bermetastasis  ke seluruh tubuh dan tak ada obatnya, bahkan untuk paliatif sekalipun. Apa dipikir cuma bisa berhasil tanpa komunikasi dengan yang lain? Apakah ada orang yang bisa hidup sendirian tanpa butuh bantuan pihak lain?

Nah, kenyataannya sih tidak sepicik lintasan barusan. Tidak semua kura-kura yang nilainya jeblok dan tidak semua kupu-kupu yang antisosial. Melirik beberapa rekan saya yang sangat sibuk dengan urusan organisasi tapi nilainya sangat memuaskan dan beberapa teman-teman yang bersikap kupu-kupu malah punya komunitas tersendiri dengan media komunikasi yang sudah canggih seperti saat ini.

Waktu tahun 1, saya belum ikut organisasi apapun, cuma kenal sebagian kecil masyarakat kampus, kerjanya kuliah pulang tapi bukannya belajar malah malas-malasan di kos. Merasa asing dengan semuanya dan masih diliputi gonjang-ganjing hati yang seolah meneriakkan pemberontakan mengenai penempatan saya di FK. Dengan niat yang seujung kuku saya melanjutkan kehidupan di kampus. Menjalani hari-hari buruk dengan hasil akhir IPK yang sangat pas-pas an. Tapi saya harus bersyukur, sebagai orang yang tidak terlalu berusaha, saya tidak mengalami ulang Blok. Dari sana mungkin timbul rasa sombong yang akhirnya mengikis sedikit demi sedikit rasa rendah hati yang sudah dipupuk semenjak kecil. Mulai enggak peduli dengan apapun selain ego. Ikutan organisasi hanya terpaksa karena jeratan keharusan untuk mengisi SAPS (Student Activities Performance System) yang konon katanya dijadikan patokan untuk wisuda atau tidaknya seorang mahasiswa. Akhirnya tahun 2 masuk jadi organisator dengan embel-embel kesombongan dan keengganan yang masih belum berubah dari tahun 1. Mulai menapaki hidup sebagai kura-kura yang tersesat di gurun pasir. Sesekali terhanyut oleh oase yang ternyata hanyalah sebuah fatamorgana yang menyesatkan. Dan saat itulah jurang kehidupan muncul di depan mata. Jurang yang sangat dalam namun menjanjikan tanah yang subur dengan pantai asri yang menanti sang kura-kura. Pilihan yang sangat berat. Kalau harus mengikuti kenikmatan tersebut, mungkin saja sebelum jatuh sang kura-kura sudah tak sanggup hidup lagi. Tapi kalau harus bertahan, toxin kesengsaraan semakin mencengkram jiwa.

Hidup segan, matipun tak mau...

Akhirnya dengan memejamkan mata, sang kura-kura terjun bebas ke bawah dengan pasrah tanpa perlawanan. Menyerahkan seluruh hidupnya dan percaya bahwa akan ada ujung dari semua penderitaannya. Kali itu saya merasa hancur dengan hasil ujian yang menyatakan saya harus ulang blok, dan itu merupakan suatu hentakan keras dalam kehidupan saya. Serasa dunia ini telah berakhir dan saya tidak mau kuliah di FK lagi. Tapi, tak mungkin saya egois kepada semua orang yang sudah mendukung saya untuk menjadi seorang dokter. Tidak, tidak mungkin saya mengecewakan mereka. Hari demi hari saya mulai merakit kembali serpihan-serpihan cangkang kokoh yang pecah terhempas jurang. Memahami betapa beruntungnya saya punya orang yang sangat menyayangi dan mendukung saya sepenuh hati, menyadari bahwa saya telah mengambil kesempatan 1 manusia untuk menjadi seorang abdi kesehatan yang mulia. Saya berfikir, tak seharusnya saya sia-siakan satu bangku emas ini dengan menelantarkannya. Dengan dukungan baru yang muncul dari diri sendiri, sang kura-kura berusaha bangkit dengan segenap tenaga walau cangkangnya sudah berserakan. Berusaha membuka mata untuk melihat kenyaan pahit yang harus ditanggungnya. Namun, betapa kagumnya. Subhanallaah!!! Sayap kupu-kupu itu begitu indah di punggung sang kura-kura yang membuatnya bisa bergerak lebih bebas. Akhirnya semangat saya yang seujung kuku itu terbukti. Kuku tua yang sudah tak layak lagi memang harus dipotong sehingga kuku muda dapat tumbuh dan selalu seperti itu untuk memperbarui semangat sebagai seorang tenaga kesehatan yang bermoto "Long Life Learnig".

Ya, kenapa dari dulu harus memikirkan perbedaan dari pada persatuan. Mengapa lebih suka berpisah dari pada berjabat tangan. Dan, sepertinya sedikit mutasi dengan menggabungkan kedua sifat  tersebut akan lebih baik dari pada harus memilah-milah.

Kenyataannya, dengan menjadi setengah kura-kura setengah kupu-kupu, hidup saya semakin lengkap. Ikut memberi andil pada pergerakan mahasiswa dan punya saudara-saudara yang bisa dibanggakan serta sedikit-demi sedikit menata kembali kepingan-kepingan kemampuan akademik yang akan jadi bekal di klinik  sampai menjadi dokter kelak.

Namun, tepat tanggal 2 April 2012, amanah saya di keorganisasian di cabut sudah. Setengah tubuh yang kokoh tadi diambil lagi dari saya. Akankah saya bisa lalui terpaan ini (lagi)?

Ya, yang saya butuhkan hanyalah adaptasi untuk bermutasi ke arah yang lebih cocok dengan iklim yang ada. Bisa jadi terangnya "kunang-kunang" dapat menyertai jalan kelam yang berliku ini agar menjadi lebih indah dan nikmat.

Kembali lagi dengan teori awal. Tidak ada kemungkinan yang 100% dan tidak ada pula kemungkinan yang 0%. Praduga tak bersalah akan selalu ada. It's just about how you solve them all.


Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Assalam alaikum
Organisasi sangat penting ya kak untuk mahasiswa kedokteran? Saya maba dan sdh memutuskan untuk non-organisasi kak. Apa sih konsekuensinya? Terima kasih ;)

Posting Komentar

 
Copyright 2010 Catatan Mahasiswa FK