Featured Contents

Salam Perkenalan

Hello all. Perkenalkan, penulis adalah seorang pelajar. Terus menambah ilmu adalah sebuah kewajiban dan menfaatkannya merupakan suatu keharusan. Untuk itu, penulis ingin berbagi pada siapa saja. Semoga bermanfaat.

Content

Semua content yang ada dalam blog ini semata-mata hanya untuk berbagi. Bila ada 'repost', sebisa mungkin kami akan mencantumkan sumbernya. Tapi di sini juga berisi karya original dari penulis sendiri. Dan bila ada yang ingin mengopy, silahkan saja, tapi tolong CANTUMKAN SUMBERnya. Terima kasih.

Penulis

By Novi Irayanti

Sample Post 4

doctor wanna be

Latest Posts

0

Anak FK vs acara Keluarga

Unknown Selasa, 20 Oktober 2015 ,
(c) google
Fenomena yang terjadi saat saya masih kuliah adalah sering ketinggalan acara keluarga. Sering saya berfikir untuk cepat selesai dan bisa kembali berkumpul bahagia dengan keluarga lagi. Namun, sampai sekarang, hal tersebut masih belum terwujud.
Read More..
0

Impian Jalan-jalan, mimpikah?

Unknown Senin, 19 Oktober 2015 ,


Udah pernah naik kereta api? - Blom

Udah pernah naik pesawat? - Blom

Udah pernah keluar Padang? - Pernah donk, pulang kampung ^,^

Udah pernah keluar Sumbar? - Blom

Fix

Serius, perjalanan hidup saya baru segini. Banyak enggak bolehnya dari pada boleh.

Cerita punya cerita, waktu sekolahan dulu kan sering ada jalan-jalan saat liburan dengan teman-teman beserta guru. Saat itu, saya tidak ikut. Baik dari taman kanak-kanak sampai SMA. Kalaupun jalan-jalan, itu bersama keluarga. Alasan orang tua saya tidak membolehkan adalah karena takut nanti terjadi apa-apa di jalan. Kata beliau, takut nanti saya tertinggal dari rombongan karena jumlah guru dibanding jumlah murid sangat jauh. 

Dulu-dulu, saya sedikit kesel karena tidak bisa ikut berbagi cerita dengan teman-teman saat balik kembali sekolah. Tapi perasaan itu saya kubur dalam-dalam, mencoba mencari sisi positif dibalik semuanya. 

Selain itu banyak hal lain yang serba terbatas saya lakukan seperti saya jarang jajan ini itu, tidak terlalu punya banyak teman dekat untuk bermain, harus sudah sampai di rumah sebelum magrib, pulang sekolah harus langsung ke rumah, kalau ada pelajaran tambahan dan saya terlambat pulang karena hujan maka akan dijemput (padahal jarak sekolah saya dan rumah itu cukup dekat). Sampai-sampai dibilang anak manja dan sebagainya.

Dengan proteksi seperti itu, saya tumbuh menjadi gadis yang cukup hati-hati dalam segala hal. Bahkan saat berjalan kaki, bila menemui lantai licinpun saya akan langsung berjalan hati-hati terlebih dahulu.

Sampai saat ini, saya juga belum pernah pergi jalan-jalan ke luar daerah. Padahal kan bisa aja saya langsung pergi tanpa ijin pada orang tua (ceritanya saya kan tinggal di kosan). Namun, berat sekali untuk minta ijin karena saya tau kalau saya minta ijin pergi jalan-jalan dengan teman maka jawaban ibu dan ayah adalah, "Sama siapa pergi? Kemana? Berapa orang perempuan yang pergi? Laki-laki yang pergi banyak? Ada orang tua temen yang pergi?" Dan setelah serentetan pertanyaan ditanyakan, maka muncul pernyataan, "Selagi untuk sekolah, silahkan pergi, itupun kalau ada dosen atau orang tua yang menemani. Selain itu, sebaiknya tidak usah, nak." Oke, baiklah. Ini mungkin udah sekian ratus kali saya dengar. Dan setelah menimbang baik buruk untung rugi, saya (ujung-ujungnya) akan memutuskan untuk tidak ikut.

Dari semua yang dilarang orang tua, cuma 1 hal yang sepertinya akan saya usahakan dan bisa diusahakan, yaitu pergi jalan-jalan. Iya, saya mengerti jalan-jalan jauh tidak terlalu menjadi penting bagi keluarga saya karena beliau harus menghemat untuk biaya sekolah anaknya. Saya juga tidak menyesali belum pernah ke sana dan ke sini. Tapi suatu hari saya ingin punya seseorang yang berani bicara pada beliau, meminta beliau mempercayakan saya padanya untuk diajak pergi jalan-jalan, dan meyakinkan beliau (orang yang saya sayangi) akan menjaga saya semampunya.

Yes, dear future husband. Please bring my dream comes true ^,^)/
Read More..
1

Berjuang Lagi (untuk ke sekian kalinya) ~ UKMPPD


Kalau sudah menempuh bidang yang satu ini, berarti kamu telah setuju untuk berjuang hingga akhir hayat. Berjuang demi semua sumpah yang sudah terucap dan berjuangan untuk bertanggung jawab atas semua ilmu yang pernah diterima.

Masuk susah, di dalamnya juga susah, mau keluar lebih susah lagi.

Candaan tersebut sering dilontarkan, dan terkadang terasa benar. Namun bila berpikir positif dan menikmati bidang tersebut, in shaa Allah semua akan terasa menyenangkan.

Jadi, ada sebuah perjuangan lagi untuk mengakhiri status mahasiswa ini. Perjuangan tersebut dinamai Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter atau disingkat dengan UKMPPD. Dahulunya ujian ini juga sudah ada, namanya UKDI, namun sejak tahun 2014 namanya telah diganti.

Tidak mudah memang ujiannya. Selain persiapan yang sudah ditempuh kurang lebih 5 tahun (3,5 tahun pendidikan sarjana, dan 2 tahun profesi), masih ada bimbingan sebelum ujian berlangsung. Ceritanya, saya sedang berada dalam masa bimbingan untuk persiapan ujian.

Mohon doanya :)

Thanks.

Read More..
0

Update-an (lagi)

ni Sabtu, 28 Juni 2014

Sudah lama tidak posting di blog ini. Baik post tentang ilmu pengetahuan, maupun post 'alakadarnya'. Bukan, sama sekali saya tidak berniat mengkambinghitamkan status baru saya sebagai 'dek koas'. Sibuk memang, sibuk ngerempongin adaptasi dari berfikir sebagai mahasiswa jadi berfikir sebagai seorang sarjana. Nah lo? Tapi bukan karena itu semua. Alasan saya tersendat mengutak-atik blog adalah semata-mata untuk mengurangi jam terbang di depan si 'leppi'. Pasalnya, mata ini mengalami perubahan drastis. Kerusakan-kerusakannya sudah semakin mengkhawatirkan, jadilah saya mengurangi interaksi dengan yang namanya kebiasaan 'pelototin monitor'. Salah satunya lepi.

Namun, jauh dari lubuk hati terdalam dan ditambah dengan jemari yang sudah tak dapat menahan untuk menyalurkan hasrat menggebunya, jadilah saya mengurangi keketatan penjagaan mata. Bukan berarti mengabaikan, tapi menggantinya dengan alternatif lain. Semoga dapat dibahas pada kesempatan berikutnya. Akhirnya, ya saya dapat menulis lagi deh.

1st night in Ramadhan.
Marhaban Yaa Ramadhan, mohon maaf lahir dan batin.

Read More..
0

.....S.Ked

Unknown Kamis, 17 Oktober 2013
Alhamdulillah
Read More..
2

Murah Memberi, Mudah Dapat

Unknown Minggu, 13 Oktober 2013 ,
Ibu sering bercerita kepada kami anak-anaknya. Melalui cerita dan perilakunya, beliau selalu memberikan contoh yang baik agar kami juga mengikuti. Kali ini, setting-an latar ceritanya berada di dapur rumah saya. Pagi tadi, saya, ibu, dan ayah tengah bersama-sama saling membantu membuat masakan. Menu yang ada pagi ini adalah Ikan gulai, samba lado hijau dengan tempe + ikan asin + kentang, dan goreng terong.

Seperti biasa, ada atau tanpa saya, ibu dan ayah selalu memasak bersama. Dahulu, saat ibu masih muda, jadwal masak beliau adalah 2 kali sehari, yaitu sehabis shalat shubuh dan setelah shalat ashar. Kalau beliau memasak pagi-pagi, biasanya ditemani oleh ayah. Beliau berkata takut sendirian. Hehe. Kalau sekarang, Ibu masak ditemani Ayah karena beliau sudah sakit. Tangannya sudah tidak kuat lagi untuk sekedar 'ngulek' sambal. Dan Ayah juga selalu menolong untuk mengukur kelapa. Hehe, pokoknya 'so sweet' gitu lah. Nah, tadi saya juga ikutan nyempil. Mendapat bagian membersihkan ikan, ayam, dll. Cuma dibersihkan saja karena tidak dimasak sekarang, tapi disimpan dulu.

Di tengah acara masak-memasak keluarga tersebut, sesekali ibu menyinggung betapa beruntungnya kami sekeluarga karena sudah 'berhasil' semua. Uhuk, iya saya tau kalau saya belum. Hehe. Ibu berkata bahwa kita harus banyak-banyak bersyukur atas keadaan ini. Kami, anak-anaknya sangat mudah mendapat pekerjaan. Lihat saja Da Deden lulus polisi dengan menjadi lulusan terbaik no 3 se sumatera barat dan no 7 di antara 3 provinsi. Lihat juga Da Andi lulus tes PNS pemda Pasaman, padahal yang diterima cuma 2 orang. Lihat juga Iyon, diterima di kemenkumham, padahal yang ikut tes ribuan dan yang diterima hanya 5 orang. Ah~ kalau boleh mengutip kata para tetangga, 'nasib baik memang menyertai kalian'. Namun, mengapa hal itu bisa terjadi dengan gampangnya?

Banyak bisik-bisik sana sini yang menyatakan kelulusan itu berdasarkan KKN. Ah~KKN dari mana. Coba liatlah kondisi keluarga saya yang sederhana, bagaimana bisa kami melakukan KKN? Saat Iyon lulus kemenkumham, banyak yang tidak percaya. Begitu pula kami sekeluarga. Iyon, adik saya satu-satunya, saya tau anak itu sangat pemalas dalam hal belajar. Tapi bagaimana bisa nilainya tinggi saat tes CPNS? Ayah ibu padahal menyuruh Iyon untuk ikut tes agar dia sedikit punya pengalaman dalam tes. Saat itu Iyon sedangan kuliah di Universitas Bung Hatta Padang. Harapan Ibu waktu itu agar Iyon mengetahui bagaimana kondisi tes dan bagaimana mengurusnya, agar saat tes setelah tamat S1 kelak dia dapat mandiri. Eh, tau taunya lulus. Da Andi juga begitu.

Sempat Ibu bercerita bahwa banyak orang yang ikut tes dengan kemampuan yang mungkin lebih tinggi dari pada Uda dan Adik saya. Banyak yang sudah mengecap pendidikan lebih tinggi dari mereka, dan bahkan banyak juga yang mempunyai pengalaman tes lebih banyak dari mereka. Namun semua tidak hanya bergantung pada itu, bergantung pada 'rezeki', ibu bilang.

Lihatlah, Ayah dan Ibu saya hidup dengan serba kecukupan. Cukup untuk makan, cukup untuk menyekolahkan kami, cukup untuk hidup. Sangat cukup, sampai-sampai hidup kami tidak dapat dikatakan berlebihan. Tidak berlebih dalam hal kendaraan, waktu saya kecil Ayah cuma punya kendaraan Vespa tua kami. Tidak berlebih sampai rumah saya juga tidak dibangun megah, pokoknya tidak lebih. Oleh karena itu, Ibu sangat cekatan mengatur keuangan. Sangat teliti dalam hal kemana uang tersebut dihabiskan. Tapi juga sangat loyal kalau ada yang butuh uang. Artinya tetap perhitungan, tapi tidak pelit.

Sepanjang penglihatan saya, kalau ada saja yang membutuhkan uang, apalagi alasannya kesusahan untuk makan, maka Ibu tanpa pikir-pikir akan menyantuni beliau. Bahkan suatu saat saya pernah mengetahui bahwa Ibu menjual cincin pernikahannya untuk memberikan pinjaman. Hikz, luluh lantak hati saya kalau mengenang kebaikan Ayah ibu. Banyak, banyak sekali kemurahannya yang tercatat dalam ingatan saya dan tak dapat saya tuliskan satu persatu. Beliau berpesan dengan tegas, sebagian dari rezeki yang kita punya, terselip rezeki orang lain juga.

Sederhana, sangat sederhana. Sampai sekarang. 

Walau sederhana, selalu berbagi. 

Itulah pelajaran yang saya dapat selama memerhatikan kedua orang tua saya. Akhirnya saya menyimpulkan, apa-apa yang Ayah dan Ibu berikan pada orang lain ternyata tak akan mengurangi apa-apa dalam hidup kami. Malah segalanya menjadi bertambah. Hal itu saya lihat dari betapa mudahnya rezeki anak-anak Ayah dan Ibu sekarang. Balasan yang diberikan kepada keduanya tidak langsung kepada mereka, tapi pada anak-anaknya. Berharap kami semua juga semurah hati beliau.
Read More..
0

What is The Best Test to Passed in to a Medical Faculty?

 Dalam Bahasa Indonesia => Masuk FK, bagusnya melalui tes apa?

I always wondering, "What is the best objective test to passed in to a medical faculty?"

Ok, It's not because I didn't satisfied with our system. But, let me give a subjective view :
  • Do we requires the knowledge of mathematics through logarithm, integral, and trigonometry to study in a medical faculty?
  • Do we requires the knowledge of Physics through the formula of momentum, velocity, acceleration to study in a medical faculty?
  • Do we requires the knowledge of Chemistry and all of it's reaction to study in a medical faculty?
  • Do we requires the knowledge of Bahasa Indonesia through poem to study in a medical faculty?
If not, why should we learn it for this 12 years?

An example :
A friend of mine, A, was an outstanding student in Biology. He is really great. Not only for his score on our school, but also for Science Olympiad in Regency and Province. Even though  he can't reach the National's class, I think he still a great one in Biology.
When I asked his dream, he really wanted to passed in to a medical faculty. And I know, he deserved for it. In fact he didn't make it. It caused that he can't passed the SNMPTN (a test to passed in a to public university in Indonesia). I realize that he can't passed just because he didn't understand the other lessons such as mathematics, chemistry, and physic. Ah~ one of an extraordinary talent have been useless.

I feel sorry. I'm the frequently remedial student in the class, indeed passed in to a medical faculty. I'm not good in Biology,  but I passed it for my mathematics, physic, and chemistry. And also I didn't like being a doctor-at that time.

Is it fair for a people love Biology but they can't enter the medical faculty because they didn't good in the other lessons?
And is it fair if a people didn't love Biology but the can passed in to a medical faculty just because they good in the other lessons?

So, what is the best test to passed in to the university due to their interest?-not only medical faculty.
Read More..
0

Pangsit Mas Pen ~ PEDEEEES!!!!

Bagi warga yang pernah tinggal di kota kecil tempat kelahiran saya, sebut saja minimal beberapa hari dan sudah clingak-clinguk untuk merasakan beberapa tempat makan di sana, sudah dapat dipastikan telinganya tidak asing lagi dengan 'Pangsit Mas Pen'. Tempat tujuan seluruh penjuru Lubuk Sikaping untuk memuaskan selera menikmati Pangsit. Tidak hanya pangsit juga sih yang disediakan di sana, ada juga bakso.

Siang ini, Ibu dan Ayah beli pangsit. Seperti bisa, beliau berdua makan di sana dan untuk saya dibungkus bawa pulang. Nah, ceritanya hari ini saya menjadi anak tunggal di rumah karena Da Deden, Da Andi, dan Iyon belum pulang. Alhasil, pangsit yang dibawa pulang juga cuma satu bungkus. 

Di Padang, sering kali setiap makan pangsit saya selalu menambahkan cabe gilingnya lagi dan lagi. Satu sendok blom cukup, tambah setengah lagi juga masih belum, dan hop, bahkan pernah sampai 3 sendok. Nah, berhubung saya sudah lama tidak makan pangsit, jadinya saya menambahkan setengah sendok tanpa perhitungan ke dalam mangkok yang sudah dipenuhi oleh makanan itu. Suapan pertama, rasanya masih enak, dua suapan berikut terasa agak pedas. Dalam pikiran saya, wah hebat! Ternyata rasanya pas. Setelah beberapa suapan berlalu, barulah mulut saya terasa berapi-api. Dalam hati, kenapa Pangsit Mas Pen bisa sepedes ini????

Saya ambil minuman dingin di kulkas dan berusaha meredamnya. Ibu yang sadar dengan sikap saya tersebut menjelaskan kalo cabe yang ijo itu adalah cabe rawit. Aaaaaa, PANTES!. Dan makin membaralah rasa pedes di mulut saya. Satu cangkir kecil, dua, tiga, dan huaaaaa. Walaupun pedas membara, tapi saya tetap berkeinginan untuk menyelesaikan makan pangsit tersebut. Kata orang, makin pedas makin jadi.

Ah~ ini pelajaran berharga. Jangan masukkan cabe dahulu sebelum dicoba. Dan menambahkannya juga jangan sekaligus, tapi sedikit demi sedikit. Huhu, saat ini saya hanya bisa pasrah menunggu beberapa jam lagi sebelum diare menghantui sore ini. Ahahaha.
Read More..
0

Sakit Itu Ada Hikmah Juga Akhirnya

Ini dikutip dari tulisan saya tertanggal 23 Maret 2012, Kamis.
"Sakit itu akhirnya ada hikmah juga". Nah, ini nih kata dewa yang sering saya sadari ketika semuanya telah terlewati. Ujung-ujungnya baru ucap syukur, ujung-ujungnya baru bilang thanks, dan ujung-ujungnya baru berbesar hati terhadap apa yang terjadi. Padahal, saat melewati hal yang berat tersebut sering kali hati ini berkeluh kesah. Ya, kenyataannya sih memang jarang orang lain yang menyadari tindakan saya tersebut karena saya selalu 'tersenyum'. Hehehe. 

Contohnya saja beberapa hari ini. Demam tinggi dengan berujung batuk kering yang akhirnya purulent. Ah, tak ada yang menyenangkan antara semuanya. Jadi malas bergerak, malas mengerjakan pekerjaan rumah seperti bersih-bersih, bahkan sangat malas untuk memenuhi kebutuhan hidup seperti makan. Pokoknya serba tak mau. Tapi, dosen berkata lain. Jadwal kuliah mulai minggu pertama ini sangat padat sekali. Hari senin saja dimulai dengan upacara bendera pukul 7 kurang 5. Ya, dengan semua kondisi yang sedang saya alami, tentu saja tidak mungkin membuat saya tidak terlambat. Dengan sempoyongan belum makan pagi, saya tetap mencoba tegar hingga upacara selesai. Selanjutnya ada kuliah pengantar Blok baru. Seorang dosen bercerita di depan dan satu jam kemudian harus tutorial. Masih agak meriang, apalagi diracuni oleh teman-teman yang memberikan kabar burung kalau tutor saya sedikit "...". Yah, tau sendiri lah. Sepertinya bukan tutor idaman mahasiswa FK. Hehe. Tapi it's OK. Siapapun tutor, yang paling penting bagi saya adalah saya bisa belajar dan mengambil manfaat dari tutorial itu sendiri meskipun hanya dapat nilai pas-pas an. Bagi saya nilai bukan yang utama, yang jelas saya mengerti sehingga suatu saat tidak melakukan tindakan yang gegabah pada pasien. Kalau nilai sih tidak menyangkal juga ingin mendapatkan yang bagus, tapi ya terkadang kesempatan untuk mendapatkannya tipis sekali.

Setelah ditunggu lebih dari 1 jam, kita turioal mandiri saja hari itu. Sepertinya dosen tersebut lupa, tidak ingat atau tidak tau kalau ada jadwal tutorial hari ini, atau bahkan sibuk dengan keadaan emergency yang tengah dihadapi. Entahlah. Terus, beberapa harinya masih sakit. Dan pada puncak kejenuhan, saya berusaha menepis semuanya. Mulai mengetik buku yang selama ini tak pernah diselesaikan. Ya, walaupun masih belum terselesaikan tapi saya sudah mulai menyicilnya. Mulai belajar dan memahami semuanya. Kebetulan juga instruksur sklill's lab saya memberi dorongan. Wah, pokoknya luar biasa sekali beberapa hari ini. Rasanya semangat saya kembali ditambah. Namun, siapa sangka ketabahan dan ketangkasan itu diuji kembali. Haha. Sekarang sakit saya sudah mulai mendingan, badan tidak panas lagi, dan yang tinggal cuma batuk dan pilek. Dan hal itu yang menjadi bumerang atas semua yang sudah berubah beberapa hari ini. Look what I've done. Tidur-tiduran di kos, nonton koleksi film yang belum pernah di tonton. All the things ARE wasting time.

Baiklah, sepertinya keadaan lemah seperti kemarin lebih menambah semangat untuk belajar. Tapi dengan kondisi yang sangat tidak nyaman seperti itu saya juga tidak sanggup. Oh, sungguh pilihan yang tak menyenangkan.

Nah, dari sana saya baru dapat hikmah. Ternyata sakit kemarin membuat kualitas hidup saya jadi lebih baik. Dan, tak seharusnya seharusnya dengan kondisi yang lebih baik seperti ini saya menyia-nyiakan waktu yang sangat berharga ini. Oh, please. Bangkit dan berusahalah ii >,<)/
Read More..
0

Kosa Kata Minggu 1

Unknown Sabtu, 12 Oktober 2013 ,
Selamat Pagi = Ohayou gozaimasu おはよう ございます
Selamat Siang = Konnichiwa こんにちは
Selamat Malam = Konbanwa こんばんは
Selamat Tidur = Oyasuminasai おやすみなさい
Selamat Makan = Ittadakimasu いっただきます
Ayah = Otousan  おとうさん
Ibu = Okaasan おかあさん
Tante = Obasan おばさん
Nenek = Obaasan おばあさん
Om = Ojisan おじさん
Kakek = Ojiisan おじいさん
Saya = Watashi わたし
Kamu = Anata あなた


Read More..
 
Copyright 2010 Catatan Mahasiswa FK