Archives

4

Anatomi dan Fisiologi Telinga

ni Sabtu, 23 Juni 2012



Telinga merupakan indra pendengaran, terbagi atas beberapa bagian seperti: telinga luar, tengah, dan dalam.
Klik untuk perbesar
I. Telinga Luar => merupakan bagian paling luar dari telinga.
Terdiri dari :
  1. Daun telinga / Pinna/ Aurikula
    => merupakan daun kartilago
    => fungsinya : menangkap gelombang bunyi dan menjalarkannya ke kanal auditori eksternal (lintasan sempit yang panjangnya sekitar 2,5 cm yang merentang dari aurikula sampai membran timpani).
    Klik untuk perbesar
  2. Membran timpani (gendang telinga)
    => merupakan perbatasan telinga bagian luar dengan tengah. Berbentuk kerucut, dilapisi kulit pada permukaan eksternal, dilapisi mukosa pada permukaan internal.
    =>memiliki ketegangan, ukuran, dan ketebalan yang sesuai untuk menghantarkan gelombang bunyi secara mekanis.
    Bagian-bagiannya :
    • Bagian atas atau Pars Flaksid (membran shrapnell), terdiri dari 2 lapisan :
      • luar : lanjutan epitel telinga
      • dalam : epitel kubus bersilia
      Terdapat bagian yang diseut dengan atik. Ditempat ini terdapat auditus ad antrum  berupa lubang yang menghubungkan telinga tengah dengan antrum mastoid.
    • Bagian bawah atau Pars tensa(membran propria), terdiri dari 3 lapisan :
      • tengah : terdiri dari serat kolangen dan sedikit serat elastin
    Bayangan penonjolan bagian bawah malleus pada membran timpani disebut dengan umbo. Dari umbo, bermula suatu refleks cahaya (cone of light) ke arah bawah, yaitu pukul 7 pada membran timpani kiri dan pukul 5 pada membran timpani kanan. Pada membran timpani terdapat 2 serat, sirkuler dan radier. Serabut inilah yang mengakibatkan adanya refleks cahaya kerucut. Bila refleks cahaya datar, maka dicurigai ada kelainan pada tuba eustachius.
    Membran timpani dibagi atas 4 kuadran untuk menentukan tempat adanya perforasi :
    • atas depan
    • atas belakang
    • bawah depan
    • bawah belakang => tempat dilakukannya miringotomi
II. Telinga Tengah => terletak di rongga berisi udara dalam bagian petrosus (canalis facialis) tulang temporal
Terdiri dari :
  1. Tuba Eustachius
    => menghubungkan telinga tengah dengan faring
    => normalnya tuba ini menutup dan akan terbuka saat menelan, mengunyah, dan menguap.
    => berfungsi sebagai penyeimbang tekanan udara pada kedua sisi membran timpani.
    Bila tuba membuka => suara akan teredam.
  2. Osikel auditori (tulang pendengaran)
    => terdiri dari 3 tulang, yaitu : Maleus (martil) , Inkus (anvill), Stapes (sanggurdi) => MIS.
    => berfungsi sebagai penghantar getaran dari membran timpani ke fenesta vestibuli
  3. Otot
    => bantu mekanisme kompensasi tubuh untuk melawan suara dengan nada tinggi (peredam bunyi).
    • m. stapedius => berkontraksi => stapes jadi kaku => suara dipantulkan
    • m. tensor timpani => menegangkan gendang telinga => suara teredam

III. Telinga dalam => berisi cairan dan terletak dalam tulang temporal
Terdiri dari
  1. Labirin
    Terdiri dari:
    • Labirin tulang => ruang berliku berisi perilimfe (cairan yang serupa dengan cairan serebrospinal).
      Terdiri dari 3 bagian:
      • Vestibular => bagian sentral labirin tulang yang menghubungkan koklea dengan saluran semisirkular.
      • Saluran semisirkularis
        • S. semisirkular anterior(superior) dan posterior mengarah pada bidang vertikal di setiap sudut kanannya.
        • S. semisirkular lateral => terletak horizontal
      • Koklea => membentuk 2,5 putaran di sekitar inti tulang, mengandung reseptor pendengaran (cabang N VIII = vestibulokoklear, pemb. darah. Frekuensi tertinggi berada di bagian depan. Sekat membagi koklea menjadi 3 bagian :
        • duktus koklear (skala medial) => bagian labirin membranosa yang terhubung ke sakulus, berisi cairan endolimfe
        • dua bagian labirin tulang yang terletak di atas dan di bawah skala media => skala vestibuli dan skala timpani => mengandung cairan perilimfe dan terus memanjang melalui lubang pada apeks koklea yang disebut helikotrema.
          • membran reissner (membran vestibuler) => pisahkan skala media dari skala vestibuli yang berhubungan dengan fenestra vestibuli
          • membran basilar => pisahkan skala media dengan skala timpani, berhubungan dengan fenestra koklear
        • skala organ korti=> terletak pada membran basilar, terdiri dari reseptor yang disebut sel rambut dan sel penunjang. Sel rambut tidak memiliki akson dan langsung bersinaps dengan ujung saraf koklear

    • Labirin membranosa => serangkaian tuba berongga dan  kantong yang terletak di dalam labirin tulang berisi cairan endolimfe (cairan yang serupa dengan cairan intraseluler). Merupakan awal 2 kantong (utrikulus dan sakulus) yang dihubungkan dengan duktus endolimfe. Setiap duktus mengandung reseptor untuk ekuilibrium statis ( bagaimana kepala berorientasi terhadap ruang bergantung gaya grafitasi) dan ekuilibrium dinamis (apakah kepala bergerak atau diam, berapa  kecepatan serta arah gerakan).
      Utrikulus terhubung dengan duktus semilunaris
      Sakulus terhubung dengan duktus koklear di dalam koklea.
  2. Nervus
    • Nervus vestibular
    • Nervus koklear
Ekuilibrium dan aparatus vestibular
Aparatus vestibular merupakan istilah yang digunakan untuk utrikulus, sakulus, dan duktus semisirkularis yang mengandung reseptor untuk ekuilibrium dan keseimbangan.
  1. Ekuilibrium Statis
    => kesadaran akan posisi kepala terhadap gaya gravitasi jika tubuh tidak bergerak. Ini juga merupakan kesadaran untuk merespon perubahan dalam percepatan linear seperti kecepatan dan arah pergerakan kepala dan garis tubuh dalam suatu garis lurus.
    • Makula adalah reseptor ekuilibrium statis. Satu makula terletak di dinding utrikulus dan satu lagi terletak pada sakulus
    • Setiap makula terdapat sel rambut yang mengandung endapan kalsium yang disebut otolit (otokonia, statokonia).
    • Aktivitas reseptor ditransmisikan ke ujunga saraf vestibular (CN VIII) yang melilit di sekeliling dasar sel rambut.
  2. Ekuilibrium Dinamis => kesadaran akan posisi kepala saat respon gerakan angular atau rotasi
    • Ampula merupakan reseptor untuk ekuilibrium dinamis. Setiap saluran semisirkularis mengandung suatu bidang pembesaran, ampula, yang berisi krista (teridiri dari sel penunjang dan sel rambut menonjol yang  membentuk lapisan gelatin = disebut kupula)

Fisiologi pendengaran
Energi bunyi ditangkap daun telinga dalam bentuk gelombang > getarkan membran timpani >  melewati tulang pendengaran MIS (maleus, inkus, stapes) > energi diamplifikasi >  diteruskan ke stapes yang menggerakkan tingkap jorong sehingga perilimfe pada skala vestibuli bergerak > getaran diteruskan ke membrana reissner yang mendorong endolimfe > timbulkan gerak relatif antara membran basalis dan membran tektoria > terjadi defleksi stereosilia sel rambut sehingga kanal ion terbuka dan terjadi pelepasan ion bermuatan listrik dari badan sel > terjadi depolarisasi rambut > lepaskan neurotransmiter ke dalam sinaps yang akan timbulkan potensial aksi pada saraf auditorius > lanjut ke nukleus auditorius > korteks pendengaran (area 39-40) di lobus temporalis.
Sumber
Gambar (c) google
Kuliah Pengantar Blok 3.6 FKUA
Sloane, Ethel. Anatomi Fisiologi untuk Pemula.
Soepardi, Efiaty Arsyad Prof. dr. Sp. THT dkk. 2007. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher. Jakarta : Balai Penerbitan FKUI.
Read More..

Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO
0

Mikrotia dan Atresia Liang Telinga

ni


Mikrotia merupakan kelainan dimana daun telinga berukuran lebih kecil dan tampak tidak sempurna.

Etiologi
  • Idiopatik.
  • Diduga : faktor genetik, infeksi virus, intoksikasi bahan kimia, obat teratogenik pada kehamilan muda.

Patogenesis
  • Terganggunya perkembangan arkus brakial pertama dan kedua pada masa embriologi

Gejala Klinis
  • Daun telinga terlihat lebih kecil dan bahkan ada yang tidak sempurna sehingga bunyi yang dapat ditangkap juga sedikit => pendengaran berkurang.
  • Dapat disertai dengan tidak adanya liang telinga dan gangguan tulang pendengaran. Tapi jarang, karena perkembangan embriologi telinga tengah dan luar memang berbeda.

Diagnosis
  • Dengan inspeksi langsung, sudah dapat diketahui bentuk daun telinga yang mengecil dari normal
  • Untuk mengetahui fungsi telinga bila dicurigai atresia liang dan gangguan tulang pendengaran => dilakukan tes : audiometri dan radiologi

Tatalaksana
  • Operasi => untuk perbaiki pendengaran dan kosmetik
  • Pada atresia liang telinga
    • unilateral => operasi dilakukan setelah dewasa
    • bilateral =>
      • operasi "kanaloplasti" baru dapat dilakukan setelah usia 5-7 tahun
      • sebelum usia tersebut, anak diberi alat bantu pendengaran untuk mencegah terganggunya perkembangan pendengaran
  • Gangguan tulang pendengaran => lakukan penanganan segera.

Komplikasi
  • Gangguan perkembangan pendengaran dan bicara

Prognosis
  • Bila ditangani dengan cepat dan dapat menghindarkan komplikasi, maka prognosisnya akan baik.

Pola pikir
  • Bila ada pasien dengan daun telinga kecil dari normal => periksa apakah diikuti oleh atresia liang telinga dan gangguan tulang pendengaran => uji pendengaran dengan audiometri dan periksa radiologi => bila terbukti => tatalaksana




Sumber
Gambar (c) google
Kuliah Pengantar Blok 3.6 FKUA
Soepardi, Efiaty Arsyad Prof. dr. Sp. THT dkk. 2007. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher. Jakarta : Balai Penerbitan FKUI.
Read More..

Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO
0

Fistula Preaurikular

ni


Fistula preaurikular merupakan lubang berbentuk bulat lonjong dengan ukuran seujung pensil. Dapat ditemukan di depan tragus. Merupakan kelainan yang bersifat herediter dominan.

Etiologi dan patogenesis
  • Gangguan perkembangan pada masa embrional

Gejala Klinis
  • Terdapat muara fistula di depan tragus
  • Dari muaranya keluar sekret yang berasal dari kelenjar sebasea
  • Pasien biasanya datang dengan keluhan obstruksi fistula dan infeksi.

Diagnosis
  • Anamnesis tentang riwayat keluarga
  • Pada PF, inspeksi ditemukan muara fistula
  • Pemeriksaan radiologi = untuk tentukan panjang vistula

Tatalaksana
  • Bila tidak ada keluhan => dibiarkan saja
  • Operasi bila :
    • Sering infeksi dan keluar sekret berkepanjangan
    • Cegah rekurensi

Komplikasi
  • Infeksi

Prognosis
  • Bila ditangani dengan cepat dan dapat menghindarkan komplikasi, maka prognosisnya akan baik.

Pola pikir
  • Bila ada pasien dengan fistula preaurikuler => periksa dan anamnesis keluhan infeksi atau obstruksi => bila tidak ada => dapat dibiarkan => namun bila rekurensi tinggi dan keluar sekret terus menerus => tindakan bedah dengan mengangkat fistula


Sumber
Gambar (c) google
Kuliah Pengantar Blok 3.6 FKUA
Soepardi, Efiaty Arsyad Prof. dr. Sp. THT dkk. 2007. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher. Jakarta : Balai Penerbitan FKUI.
Read More..

Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO
0

Bat's Ear (Telinga Camplang/ Jebang)

ni


Bat's ear atau telinga camplang merupakan kelainan kongenital dimana bentuk daun telinga tidak normal, yaitu lebih lebar dan berdiri.

Etiologi dan Pateogenesis
  • Kelainan perkembangan pada masa embrional, yaitu kelainan perkembangan arkus brakial pertama dan kedua.

Gejala Klinis
  • Kelopak telinga terlihat lebih lebar dan tinggi.
  • Tidak mengganggu pendengaran, tapi merupakan masalah kosmetik karena bentuknya tidak bagus.
  • Dapat juga timbulkan masalah psikis

Diagnosis
  • Dengan PF inspeksi saja sudah terlihat kelainannya yang nyata.

Tatalaksana
  • Dibiarkan saja karena tidak mengganggu pendengaran.
  • Pembedahan => perbaiki kosmetik
  • Terapi psikis kalau diperlukan

Prognosis
  • Bila diperbaiki, maka kosmetiknya akan bagus kembali

Pola pikir
  • Bila ada pasien dengan telinga membesar dan meninggi => pendengaran tidak terganggu => dibiarkan saja atau dapat dilakukan pembedahan untuk perbaiki masalah kosmetik dan bila perlu beri terapi psikis.


Sumber
Gambar (c) google
Kuliah Pengantar Blok 3.6 FKUA
Soepardi, Efiaty Arsyad Prof. dr. Sp. THT dkk. 2007. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher. Jakarta : Balai Penerbitan FKUI.
Read More..

Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO
2

THT

ni Selasa, 19 Juni 2012



TELINGA
Anatomi dan Fisiologi
Kelainan non infeksi
  1. Kelainan kongenital
  2. Gangguan pendengaran
  3. Gangguan keseimbangan
Kelainan infeksi
  1. Telinga luar
  2. Telinga tengah
  3. Telinga dalam

HIDUNG


TENGGOROK
Read More..

Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO
0

Ptosis / Blepharoptosis

ni Selasa, 12 Juni 2012


Ptosis/ Blepharoptosis merupakan keadaan dimana letak palpebra superior terlalu rendah. Normalnya palpebra superior berada di tengah-tengah limbus superior.

Epidemiologi
  • Dapat dialami semua umur.
  • Berupa kongenital atau didapat

Klasifikasi :
  • Berdasar onset :
    • Kongenital
    • Didapat
  • Berdasar organ yang dikenai :
    • Unilateral
    • Bilateral
  • Berdasar luas yang dikenai :
    • Partial
    • Seluruhnya

Etiologi 
    • Gangguan fungsi M. Levator (miogenik)
    • Lumpuhnya N III (N. Okulomotorikus)
    • Jaringan penyokong tidak baik

    Patogenesis berdasar etiologi
    • Kelainan perkembangan levator
      Terjadi distrofi otot levator => sehingga fungsinya tidak normal (tidak mampu mengangkat palpebra superior). Dapat juga terjadi kelemahan pada m. rectus superior.
    • Jenis Ptosis miogenik lainnya :
      • Blepharophimosis => fungsi levator yang buruk. Ptosisinya lebih berat dan disertai telechantus, lipat epichantus, dan ektropion sikatriks palpebra inferior.
      • Ophthalmoplegia eksternal menahun progeresif => penyakit neuromuskuler herediter progresif lambat yang dimulai dari pertengahan kehidupan. Semua otot ektraokuler terkena termasuk levator dan otot ekspresi muka
      • Miastenia gravis => manifestasikan ptosis dan diplopia..
    • Ptosis Aponeurotik
      Biasanya terjadi pada kehidupan lanjut karena disinsersi parsial atau putusnya aponeurosis levator dari tarsus. Dapat diakibatkan oleh trauma atau pasca operasi katarak.
    • Ptosis Neurogenik
      Lumpuhnya N. Okulomotorikus yang mempersarafi m. levator akibatkan pengangkatan palpebra tidak sempurna. Dapatdiakibatkan oleh trauma atau kelainan dari lahir.
    • Ptosis Mekanik
      Palpebra superior terhalang membuka sempurna karena ada masa seperti neoplasma atau efek tambatan dari pembentukan parut. Pemendekan horizontal palpebra superior merupakan penyebab umu dari ptosis mekanik

    Gejala Klinis
    • Tidak dapat membuka sempurnanya palpebra superior.
    • Bila unilateral dan mengenai bayi, dapat terjadi ambliopia kalau tidak ditatalaksana dengan cepat.

    Diagnosis
    • Anamnesis : pembukaan palpebra superior tidak sempurna
    • Pemeriksaan Fisik : visus untuk menilai sudah terjadi ambliopia atau belum.

    Tatalaksana
    • Bila monokuler dan penderita masih kecil => harus segera dioperasi untuk mencegah terjadinya ambliopia (penglihatan tidak berkembang)
    • Bila bilateral dan mengenai anak kecil => tidak apa ditunda dulu bila ada kendala.

    Komplikasi
    • Ambliopia
    • Strabismus

    Prognosis
    • Bila ditangani dengan cepat dan dapat menghindarkan komplikasi, maka prognosisnya akan baik.

    Pola pikir
    • Bila ada pasien dengan penurunan palpebra superior yang lebih dari normal => periksa dan pastikan penyebabnya serta cek apakah unilateral atau bilateral => bila unilateral dan memungkinkan menggangu perkembangan mata, maka segera operasi.

    Sumber
    Gambar (c) google
    Kuliah Pengantar Blok 3.6 FKUA
    Vaughan, Daniel G dkk. 1996. Oftalmologi Umum. Jakarta : Penerbit Widya Medika.
    Read More..

    Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO
    0

    Khalazion



    Khalazion merupakan peradangan lipogranuloma steril dan idiopatik menahun kelenjar Meibom. Ditandai dengan pembengkakan terbatas yang terasa tidak sakit dan berkembang dalam beberapa minggu.

    Etiologi
    • Gangguan sekresi kelenjar Meibom 

    Patogenesis
    • Sekresi kelenjar Meibom terganggu => terjadi penyumbatan dan reaksi jaringan sekitar.

    Gejala Klinis
    • Kelopak mata tebal dan udem
    • Teraba benjolan keras
    • Pada ujung Meibom terdapat masa kuning akibat sekresi yang tertahan
    • Dibedakan dengan hordeolum karena pada khalazion tidak terdapat tanda-tanda peradangan.
    • Bila khalazion besar dan menekan bola mata, dapat akibatkan astigmatisme.

    Diagnosis
    • Anamnesis : pembengkakan pada ujung kelopak mata.
    • Pemeriksaan Fisik : kelopak mata tampak udem dan tebal, terba benjolan keras dan ada sekresi kekuningan di muaranya.
    • Pemeriksaan lab jarang dilakukan, namun pemeriksaan patologik menunjukkan proliferasi endotel asinus dan respon radang granulomatosa yang mencakup sel kelenjar mirip Langerhans.
    • Biopsi dilakukan untuk khalazion yang mengalami kekambuhan

    Tatalaksana
    • Kompres hangat
    • Urut ke arah muara kel. Meibom
    • Eksisi lesi dan kuretase untuk mengeluarkan isi kelenjar bila mengganggu penglihatan dan kosmetik.

    Komplikasi
    • Keganasan

    Prognosis
    • Bila ditangani dengan cepat dan dapat menghindarkan komplikasi, maka prognosisnya akan baik.
    • Reakurensi khalazion biasanya terjadi pada kelenjar di sebelahnya. Bila rekurensi terjadi lagi pada kelenjar yang telah mengalami peradangan => pikirkan keganasan.

    Pola pikir
    • Bila ada pasien mengeluh mata bengkak => periksa dan temukan gejala klinis khalazion => bila terbukti => tatalaksana => perhatikan rekurensi, bila berada pada kelenjar di sebelahnya, tatalaksana lagi. Namun bila rekurensi masih pada kelenjar yang sama, maka pikirkan keganasan.
    Sumber
    Gambar (c) google
    Kuliah Pengantar Blok 3.6 FKUA
    Vaughan, Daniel G dkk. 1996. Oftalmologi Umum. Jakarta : Penerbit Widya Medika.
    Read More..

    Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO
    0

    Hordeolum



    Hordeolum merupakan infeksi akut supuratif pada kelenjar-kelenjar kelopak mata.

    Klasifikasi
    1. Hordeolum internum => yang mengalami inflamasi adalah kelenjar Meibom. Bengkaknya lebih besar.
    2. Hordeolum eksternum => yang mengalami inflamasi adalah kelenjar Zeis dan Moll.Bengkaknya lebih kecil dan lebih superfisial.

    Etiologi
    • Staphylococcus Aureus

    Gejala Klinis
    • Terdapat benjolan merah di dekat pangkal bulu mata
    • Sakit bila ditekan
    • Merah
    • Hordeolum interna dapat pecah ke arah kulit atau konjungtiva. Kalau hordeolum eksterna selalu pecah ke arah kulit.

    Diagnosis
    • Anamnesis : pasien mengeluh mata perih, berair, merah. Dan yang paling penting ada riwayat menggunakan tetes mata perak nitrat beberapa jam sebelum kejadian.
    • Pemeriksaan Fisik : tampak mata berair, merah, konjungtiva palpebra inferior terlihat jelas dan merah (iritasi, dll)
    • Kerokan konjungtiva sering mengandung sel epitel berkeratin, beberapa neutrofil polimorfonuklear.

    Tatalaksana
    • Kompres hangat 3-4 kali sehari selama 10-15 menit
    • Bila tidak membaik dalam 48 jam, insisi dan drainase bahan purulent.
    • Antibiotik lokal : salep antibiotik pada sakus setiap 3 jam
    • Antibiotik sistemik bila terjadi selulitis
    • Perbaiki higiene untuk mencegah rekuren

    Komplikasi
    • Selulitis => infeksi kulit (subkutis)

    Prognosis
    • Bila ditangani dengan cepat dan dapat menghindarkan komplikasi, maka prognosisnya akan baik.

    Pola pikir
    • Bila ada pasien mengeluh mata bengkak => periksa dan lihat apakah bengkaknya berasal dari dekat pangkal bulu mata => Tentukan apakan ini benar-benar hordeolum internum atau eksternum => Terapi antibiotik lokal dan sistemik => Bila ada fluktuasi => insisi.


    Sumber
    Gambar (c) google
    Kuliah Pengantar Blok 3.6 FKUA
    Vaughan, Daniel G dkk. 1996. Oftalmologi Umum. Jakarta : Penerbit Widya Medika.
    Read More..

    Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO
    0

    Adult Conjungtivitis Gonorrhea

    ni Senin, 11 Juni 2012


    Adult Conjuntivitis Gonorrhea merupakan inflamasi konjungtiva karena infeksi dari bakteri Neisseria Gonorrhea atau Neisseria Meningitidis.

    Epidemiologi
    • Pada dewasa

    Etiologi
    • Neisseria Gonorrhea
    • Neisseria Meningitidis

    Patogenesis
    • Penularan kuman melalui sexual intercourse atau dari genital ke mata melewati tangan sendiri.

    Gejala Klinis
    • Palpebra dan konjungtiva edema
    • Injeksi konjungtiva dan siliar
    • Sekret purulent atau mukopurulent, banyak, dan dapat proyektil
    • Membran ada / tidak
    • Gatal, nyeri
    • Kelenjar preaurikuler tidak terlalu besar

    Diagnosis
    • Anamnesis : pasien tengah menderita GO, atau memang ada riwayat hubungan seksual dengan pasangan yang GO.
    • Pemeriksaan Fisik : tampak mata berair dengan sekret yang purulent.
    • Kerokan konjungtiva dan biakan disarankan untuk setiap kasus yang purulent, ada membrane atau pseudomembrane. Melihat banyak neutrofil polimorfonuklear.

    Tatalaksana
    • Rawat dan isolasi pasien
    • Bersihkan sekret dan irigasi setiap 1/2 jam
    • AB sistemik seperti penicilin G 4,8 milyun unit IM bagi 2 dosis atau
      Ceftriaxone 1 gr/hr IV selama 7 hari
    • Topikal : seperti penicilin atau golongan 3 (Ciprofloxasin dan Ofloxacin) tiap jam setelah dibersihkan.
    • Obati pasangannya juga!!!

    Komplikasi
    • Dapat menembus epitel kornea sehingga akibatkan ulkus kornea
    • Endoftalmitis

    Prognosis
    • Bila ditangani dengan cepat dan dapat menghindarkan komplikasi, maka prognosisnya akan baik.

    Pola pikir
    • Bila ada pasien mengeluh mata perih, berair, dengan sekret purulent => periksa dan pastikan penyebabnya. Bila ada riwayat GO atau berhubungan seksual dengan penderita GO => curigai ACG  => obati dengan AB sistemik + topikal + irigasi sekret => OBATI PASANGANNYA JUGA.

    Sumber
    Gambar (c) google
    Kuliah Pengantar Blok 3.6 FKUA
    Vaughan, Daniel G dkk. 1996. Oftalmologi Umum. Jakarta : Penerbit Widya Medika.
    Read More..

    Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO
    0

    Chemical Conjungtivitis Neonatorum



    Chemical Conjungtivitis Neonatorum (CCN) merupakan inflamasi konjungtiva pada neonatus karena pemakaian perak nitrat berlebihan. Perak nitrat biasanya digunakan pada bayi baru lahir untuk profilaks matanya dari GO (gonorrhoe).

    Epidemiologi
    • Pada neonatus yang diberi profilaks GO.

    Etiologi dan Patogenesis
    • Penggunaan perak nitrat (profilaksis CREDE) yang diteteskan berlebihan pada sakus konjungtiva > beberapa jam setelah diberi obat tetes akan terjadi inflamasi ringan pada konjungtiva neonatus > akibatkan edem dan berairnya mata disertai injeksi konjungtiva.

    Gejala Klinis
    • Mata berair
    • Edema palpebra dan konjungtiva
    • Sekret serosa
    • Injeksi konjungtiva
    • Dapat terjadi injeksi siliar juga
    • Terdapat membran/ pseudomembrane

    Diagnosis
    • Anamnesis : pasien mengeluh mata perih, berair, merah. Dan yang paling penting ada riwayat menggunakan tetes mata perak nitrat beberapa jam sebelum kejadian.
    • Pemeriksaan Fisik : tampak mata berair, merah, konjungtiva palpebra inferior terlihat jelas dan merah (iritasi, dll)
    • Kerokan konjungtiva sering mengandung sel epitel berkeratin, beberapa neutrofil polimorfonuklear.

    Tatalaksana
    • Hentikan pemberian agen penyebab.
    • Bilas segera matanya
    • Beri artifisial tear film
    • Bila ada infeksi sekunder, beri antibiotik.

    Komplikasi
    • iritasi konjungtiva palpebra, bulbi, dan kornea

    Prognosis
    • Bila ditangani dengan cepat dan dapat menghindarkan komplikasi, maka prognosisnya akan baik.
    • Sering reaksi konjungtiva menetap beberapa minggu sampai beberapa bulan.

    Pola pikir
    • Bila ada pasien mengeluh mata perih, berair, merah => periksa dan pastikan penyebabnya. Bila ada riwayat penggunaan perak nitrat tetes mata beberapa jam lalu => curigai CCN => bilas mata + beri tear film => awasi, beri antibiotik bila ada infeksi sekunder.
    cara download

    Sumber
    Gambar (c) google
    Kuliah Pengantar Blok 3.6 FKUA
    Vaughan, Daniel G dkk. 1996. Oftalmologi Umum. Jakarta : Penerbit Widya Medika.
    Read More..

    Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO
    5

    Anatomi Mata



    Rongga orbita  (klik gambar untuk perbesar)
    Orbita digambarkan sebagai piramid berdinding empat yang berkonvergensi ke arah belakang. Dinding medial orbita kiri dan kanan terletak paralel dan dipisahkan oleh hidung. Pada setiap orbita, dinding lateral dan medial membentuk sudut 45 derajat.
    Lima tulang pembentuk orbita :
    1. Os. Frontal
    2. Os. Spenoidal
    3. Os. Zygomaticus
    4. Os. Palatinum
    5. Os. Maxila
    6. Os. Ethmoidales
    7. Os. Lakrimalis

    Orbita berbentuk buah pir, dengan nervus optikus sebagai tangkainya. Lingkaran anterior lebih kecil sedikit dari pada lingkaran  di bagian dalam tepiannya yang merupakan pelindung yang kuat.
    Volume orbita kira-kira 30cc dan bola mata hanya menempati seperlima bagian ruangan, selebihnya diisi lemak dan otot. Pada bagian anterior, terdapat septum orbitae (pemisah antara palpebra dan orbita).
    Orbita berisi :
    • Otot penggerak bola mata
    • N. Optikus
    • Glandula Lakrimalis
    • Lemak
    Orbita berhubungan dengan sinus frontalis di atas, sinus maksilaris di bawah, sinus ethmoidalis dan sinus sphenoid di medial. Dasar orbita yang tipis mudah rusak oleh trauma langsung terhadap bola mata sehingga menimbulkan 'fraktur blow-out' dengan herniasi isi orbita ke dalam antrum maksilaris. Infeksi pada sinus ethmoidalis dan sphenoid dapat mengikis dinding medialnya yang setipis kertas (lamina papyracea) dan mengenai orbita. Defek pada atapnya (misal : neurofibromatosis) dapat berakibat timbulnya pulsasi pada bola mata yang berasal dari otak.

    Dinding Orbita:
    • Atap orbita => terdiri dari facies orbitalis osis frontalis. Di bagian anterior lateral atas, terdapat fosa lakrimalis yang berisi kelenjar lakrimal. Di posterior atap, terdapat ala parva osis sphenoid yang mengandung kanalis optikus.
    • Dinding lateral => dipisahkan dari bagian atap oleh fisura ortalis superior yang memisahkan ala parva dan ala magna osis sphenoidalis. Bagian anterior dinding lateral dibentuk oleh facies orbitalis osis zygomatici (malar), merupakan bagian terkuat orbita.
    • Dasar orbita => dipisahkan dari dinding lateral oleh fisura orbitalis inferior. Bagian dasar yang luas terbentuk dari pars orbitalis osis maksilaris (merupakan tempat yang paling sering terjadinya fraktur). Processus orbitalis osis platini membentuk daerah segitiga kecil pada dasar posterior.

    Apeks Orbita => merupakan tempat masuknya semua saraf dan pembuluh darah ke mata serta merupakan tempat asal semua otot ekstraokuler kecuali obliquus inferior.
    • Fisura orbitalis superior  =>
      • vena ophthalmika superior, nervus lakrimalis, frontalis, dan trabekularis => berjalan di bagian lateral fisura (di luar anulus Zinn)
      • Ramus superior dan inferior nervus okulomotorius, nervus abducens dan nasosiliaris => berjalan di bagian medial fisura (di dalam anulus Zinn)
      • Vena ophthalmika superior sering bergabung dengan vena ophthalmika inferior sebelum keluar dari orbita.
    • Kanalis Optikus (di dalam anulus Zinn) => dilalui nervus optikus dan arteri ophthalmika

    Perdarahan
    Arteri Carotis Interna => Arteri Ophtalmika (berjalan dengan nervus optikus menuju orbita dan bercabang)
    •  => Arteri Retina Sentralis (cabang intraorbita pertama, memasuki nervus optikus sekitar 8-15mm di belakang bola mata.
    • => Arteri Lakrimalis => perdarahi glandula lakrimalis dan kelopak mata atas.
    • => Arteri Siliaris Posterior Longa dan Brevis (cabang muskularis ke berbagai otot orbita)
      • Longa => perdarahi korpus siliare dan beranastomose dengan arteri siliaris anterior membentuk circulus arterialis mayor iris.
      • Brevis => perdarahi khoroid dan bagian nervus optikus.
    • => Arteri Siliaris Anterior (cabang muskularis menuju muskuli recti) => perdarahi sklera, episklera, limbus,  konjungtiva.
    • => Arteri Palpebralis (cabang ke kelopak mata) 
    ACPL (Artery Cyliaris Posterior Longus) + ACA (Artery Cyliaris Anterior) => di pangkal iris membentuk sirkulus arteriosus mayor.

    Bola Mata
    Bola mata dewasa normal hampir mendekati bulat dengan diameter anteroposterior sekita 24,5 mm. Pada saat bayi, panjangnya 16,5 mm.
    Bola Mata (klik gambar untuk perbesar)
    Konjungtiva
    => merupakan membran mukosa yang transparan dan tipis yang membungkus :
    • Permukaan posterior kelopak mata => konjungtiva palpebralis
      K. Palpebralis melekat erat ke tarsus
    • Permukaan anterior sklera => konjungtiva bulbaris
      K. bulbaris melekat longgar ke septum orbitale di fornices dan melipat berkali-kali. Pelipatan ini memungkinkan bola mata bergerak dan memperbesar permukaan konjungtiva sekretorik. Kecuali di limbus (tempat kapsul tenon menyatu dengan konjungtiva sejauh 3 mm), konjungtiva bulbaris melekat longgar dengan kapsul tenon dan sklera di bawahnya.
    • Konjungtiva fornik
    Perdarahan konjungtiva versal dari arteri siliaris anterior dan arteri palpebralis. Persarafannya berasal dari cabang pertama N. V.

    Kapsula Tenon (Fascia Bulbi)
    Kapsula Tenon merupakan membran fibrosa yang membungkus bola mata dari limbus sampai ke nervus optikus. Di dekat limbus, konjungtiva-kapsula tenon-dan episklera menyatu. Segmen bawah kapsula tenon tebal dan menyatu dengan fasia muskulus rektus inferior dan muskulus obliquus inferior membentuk ligamentum suspensorium bulbi(Ligamentum Lock-wood), tempat terletaknya bola mata.

    Sklera dan Episklera
    Sklera merupakan 5/6 bagian dinding bola mata berupa jaringan kuat yang berwarna putih. Permukaan luar sklera anterior dibungkus oleh lapisan tipis jaringan elastik halus yang disebut episklera.
    Dibagian anterior, sklera bersambung dengan kornea dan dibagian belakang bersambung dengan duramater nervus optikus. Beberapa sklera berjalan melintang bagian anterior nervus optikus sebagai Lamina Cribrosa. Persarafan sklera berasal dari saraf-saraf siliaris.
    Episklera banyak mengandung pembuluh darah.
    Lapisan pembungkus mata bagian luar :
    1. Episklera
    2. Sklera
    3. Lamina Fusca=> lapisan berpigmen coklat pada permukaan dalam sklera yang membentuk lapisan luar ruang suprakoroid.

    Kornea
    Kornea merupakan lapisan transparan yang melapisi 1/3 depan bola mata. Permukaannya licin dan mengkilat. Lebih tebal di bagian pinggir dari pada sentral. Indeks biasnya 1,337 dengan daya refraksi + 42 dioptri.
    Kornea bersifat avaskuler sehingga nutrisinya berasal dari pembuluh darah limbus, air mata, dan akuos humor. Dipersarafi oleh N. V1 (N. Ophthalmicus).
    Lapisan kornea :
    1. Epitel : terdiri dari 5-6 lapis sel berbentuk kubus sampai gepeng.
    2. Membrana Bowman : Lapisan jernih aseluler.
    3. Stroma : terdiri dari kumpulan sel yang membentuk jaringan ikat yang kuat.
    4. Membrana Dessement : sebuah membran jernih yang elastik, tampak amorf.
    5. Endotel : merupakan satu lapis sel berbentuk kubus.
    Bila ada infeksi kronik, kornea akan memutih dan terbentuk vaskuler pada kornea.

    Uvea
    Uvea merupakan lapisan vaskuler tengah mata dan dilindungi oleh sklera dan. Bagian ini ikut memasok darah ke retina. Terdiri dari :
    • Iris => merupakan perpanjangan korpus siliare ke anterior. Di dalam stroma iris terdapat sfingter dan otot dilatator. Perdarahan iris berasal dari circulus mayor iris, persarafannya berasal dari serat di dalam nervi siliare.
      Iris berfungsi mengendalikan banyak cahaya yang masuk ke dalam mata. Ukuran pupil ditentukan oleh keseimbangan antara konstriksi akibat aktivitas parasimpatik yang dihantarkan melalui N. Kranialis III dan dilatasi yang ditimbulkan oleh aktivitas simpatik.
    • Korpus Siliare
      Korpus siliare dan epitel siliaris pembungkusnya berfungsi untuk produksi akuos humor. Muskulus siliaris tersusun dari gabungan serat longitudinal, sirkuler, radial. Fungsi serat sirkuler adalah untuk mengerutkan dan relaksasi serat Zonula yang berorigo di lembah di antara prosesus siliaris.
    • Koroid => merupakan segmen posterior dari uvea, di antara retina dan sklera. Tersusun dari 2 lapis pembuluh darah

    Lensa
    Lensa merupakan struktur bikonveks, avaskuler, tak berwarna, dan hampir transparan sempurna. Lensa Kristalin => saat neonatal bentuknya hampir bulat dengan konsentrasi cair. Daya akomodasinya sangat kuat. Lensa kristalin ini tumbuh seumur hidup di ekuator lensa sehingga semakin tua lensanya semakin padat dan daya akomodasinya turun.
    Saat dewasa, bentuknya cembung ganda, permukaan anterior lebih flat dibanding posterior. Diameter 9 mmm, tebal 4,5-6 mm. Warnanya bening keabuan, transparan, avaskuler. Daya refraksinya +16 dioptri, indeks bias 1,337.
    Konsistensinya 65% air dan 35% protein (kristalin). Kandungan kalsium lensa lebih banyak dari pada jaringan tubuh lain. Asam askorbat dan glutation terdapat dalam bentuk teroksidasi maupun tereduksi. Tidak ada serat nyeri, pembuluh darah.
    Menggantung pada korpus siliare melalui Zonula Zinii. Di anteriornya terdapat akuos humor dan di posteriornya terdapat vitreus humor.

    Aquaeus Humor
    klik untuk perbesar gambar
    Akuos humor merupakan cairan yang mengisi COA, diproduksi oleh korpus siliare di COP (Kamera Okuli Posterior) yang selanjutnya mengisi COA dan dieksresi melalui trabekula. Sepuluh persennya dieksresikan melalui iris.
    Fungsi :
    • Nutrisi lensa dan kornea sampai epitel
    • Pertahankan TIO normal 10-20 mmHg.

    Kamera Okuli Anterior (COA)
    Sudut COA merupakan  terbentuk dari perifer kornea dengan akar iris, besarnya 45'. COA berisi cairan Akuos humor yang dihasilkan corpus siliaris.
    Garis Schwalbe merupakan tanda dari berakhirnya kornea. Jalinan trabekula terdapat di atas kanalis Schlemm.

    Retina
    Retina merupakan jaringan saraf tipis yang semi transparan, membentang dari papil saraf optic ke depan sampai Oraserata. Tebalnya 0,1 mm, dan semakin tebal pada bagian posterior. Pada retina terdapat :
    • Makula => merupakan pigmentasi kekuningan (Xantofil) yang membatasi arcade arteri retina sentralis sehingga Fovea menjadi avaskular
    • Fovea => merupakan bagian di tengah makula, merupakan cekungan sehingga menghasilkan pantulan khusus dengan ophthalmoscop yang disebut refleks fovea.
    • Foveola => bagian paling tengah dari Fovea. Seluruhnya berupa sel Cone/ Sel kerucut (sel foto reseptor) dan semakin ke perifer digantikan oleh sel Rod.

    Vitreus
    Korpus vitreus mengisi 2/3 bagian isi bola mata dan mempertahankan bentuknya selalu bulat. Konsistensinya 99% air dan berbentuk gel.

    ADNEKSA MATA
    Alis Mata
    Alis mata merupakan lipatan kulit menebal yang ditutupi rambut. Lipatan kulit ini ditunjang oleh serat otot di bawahnya. Glabela merupakan prominentia tanpa rambut di antara alis.

    Palpebra
    Palpebra merupakan modifikasi lipatan kulit yang dapat menutup dan melindungi bola mata bagian anterior. Struktur palpebra :
    • Lapisan Kulit => lapisan kulit luar, berbeda dengan kulit pada bagian tubuh lain karena lebih longgar, tipis, dan elastik. Terdapat sedikit folikel rambut dan lemak subkutan.
    • Muskulus Orbikularis Okuli => berfungsi untuk menutup palpebra. Dipersarafi oleh N. Facialis.
    • Jaringan Alveolar => jaringan aerolar submuskular yang terdapat di bawah muskulus orbikularis okuli.
    • Tarsus => struktur penyokong utama palpebra berupa jaringan fibrosa padat. Terdapat tarsus superior dan inferior.
    • Konjungtiva Palpebra => selapis membran yang melekat pada tarsus di bagian posterior palpebra.
    Tepian Palpebra :
    1. Tepian Anterior
      • Bulu mata
      • Glandula Zeis => modifikasi kelenjar sebasea kecil yang bermuara ke dalam folikel rambut pada dasar bulu mata.
      • Glandula Moll => modifikasi kelenjar keringat yang bermuara ke dalam satu baris dekat bulu mata.
    2. Tepian Posterior => bagian posterior palpebra  yang berkontak dengan mata dan di sepanjangnya bermuara dari kelenjar sebasea yang telah dimodifikasi (Glandula Meibom)
    3. Punktum Lakrimale

    Aparatus Lakrimalis


    Terdiri dari glandula lakrimalis > duktus sekretori > menyebar di permukaan mata > masuk ke punctum superior atau inferior > menuju kanalis superior atau inferior > menyatu di kanalis komunis > sakus lakrimalis > duktus lakrimalis > bermuara pada meatus inferior dari rongga nasal.
    Pasokan darah dari aparat lakrimal berasal dari arteria lakrimalis

    PERSYARAFAN MATA
    Nervus Optikus
    Nervus opticus merupakan kumpulan dari 1 juta serat saraf. Terdapat beberapa bagian :
    • Pars Intra Okuler
      Terdapat papil saraf optik berwarna merah muda dengan diameter 1,5 mm, berbatas tegas, tempat keluar masuk arteri dan vena sentralis retina. Terdapat cekungan (cup) normal dibanding papil (disc) dengan C/D = 0,3.
    • Pars Intra Orbita
      Keluar dari sklera, diameter 3 mm, panjang 25-30 mm. Berbentuk S dan berjalan dalam muskular memasuki foramen optikum 4-9 mm.
    • Pars Intra Kranial
      Panjangnya 10 mm dan bergabung dengan nervus optikum sebelahnya membentuk kiasma optikum
    Ganglion retina dan aksonnya merupakan bagian dari susunan saraf pusat sehingga tidak dapat beregenerasi bila terpotong. Mendapat pasokan darah dari cabang arteri retina.

    Kiasma Optikus
    Kiasma dibentuk dari pertemuan kedua nervi optici dan merupakan tempat penyilangan serat-serat nasal ke tractus optikus. Kiasma menerima perdarahan dari circulus Willis.

    Anatomi dan Fisiologi Otot Penggerak  Bola Mata
    Untuk diagnosis kelainan pergerakan mata, diperlukan penentuan kedudukan atau posisi bola mata. Ada 9 posisi:
    1. Posisi primer => mata melihata lurus ke depan
    2. Posisi Sekunder => mata melihat lurus ke atas, bawah, kiri, dan kanan
    3. Posisi Tertier => mata melihat ke atas kanan, atas kiri, bawah kanan, dan bawah kiri.
    Pergerakan bola mata dilakukan oleh 3 pasang otot mata luar.

    1. Otot rektus medius (N III = okulomotorius)
      => adduksi => gulirkan bola mata ke arah nasal
    2. Otot rektus lateral (N VI = abdusen)
      => abduksi => gulirkan bola mata ke arah temporal
    3. Otot rektus superior (N III)
      => elevasi, adduksi, intorsi bola mata.
    4. Otot rektus inferior (N III)
    5. Otot oblik superior (N IV = troklear)
    6. Otot oblik inferior (N III)
    Masing-masing otot rectus berorigo pada sklera di depan ekuator (bagian tengah mata). Masing-masing otot obliq berorigo pada sklera bagian lateral di belakang ekuator. Otot levator tidak termasuk otot mata karena tidak berorigo pada bola mata. Fungsi levator : menaikkan bola mata.

    DOWNLOAD - Anatomi Mata.pdf 
    cara download   
    Sumber
    Gambar (c) google
    Kuliah Pengantar BLOK 3.6 FKUA
    Vaughan, Daniel G dkk. 1996. Oftalmologi Umum. Jakarta : Penerbit Widya Medika.

    Read More..

    Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO
    1

    Ophthalmology

    ni


    Anatomi

    Fisiologi

    Histology

    Deformitas Anatomik Kelopak Mata
    1. Ektropion
    2. Entropion
    3. Koloboma
    4. Epichantus
    5. Telechantus
    6. Blepharochalasis
    7. Dermatochalasis
    8. Blepharospasme
    9. Blepharoptosis / Ptosis

    Inflamasi pada Mata:
    1. Kelopak Mata
    2. Konjungtiva
      • Konjungtivitis
        • Konjungtivitis hiperakut => hitungan jam - hari
          Contoh :
        • Konjungtivitis akut
          Contoh:
          • Konjungtivitis Kataralis Acute/ Bakteri
          • Konjungtivitis Inklusi pada Neonatus
          • Konjungtivitis Inklusi pada Dewasa
          • Konjungtivitis Folikular Akut
            • Pharyngo Conjungtivitis Fever (PCF)
            • Epidemic Kerato Conjungtivitis (EKC)
            • Herpes Simplex Kerato Conjungtivitis
            • Newcastle Conjungtivitis
            • Inclusion Conjungtivitis
            • Other Clamydia Infection (zoonoses)
            • Acute Hemorrhagic Conjungtivitis (ACH)
        • Konjungtivitis kronis
          Contoh :
          • Konjungtivitis folokularis kronik
            • Trachoma
            • Non Trachoma
              • Konjungtivitis inklusi kronik
              • Konjungtivitis folikular toxic
              • Konjungtivitis virus lain
          • Konjungtivitis bakteri kronik
            • S. Aureus
            • Syphilis
            • TB
    3. Kornea
    4. Uvea
    5. Aparatus Lakrimalis
    6. Sklera
    7. Retina

    Neoplasma
    Read More..

    Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO
    1

    Melasma

    ni Kamis, 07 Juni 2012



      
    Melasma merupakan kelainan kulit di mana warnanya menjadi lebih gelap (hipermelanosis) dari sekitar.

    Epidemiologi
    • Predileksinya pada tempat yang terpajan sinar UV (pipi, dahi, daerah atas bibir, hidung, dagu)
    • Mengenai semua ras, terutama penduduk daerah tropis
    • Lebih sering mengenai wanita, indeks terbanyak 30-44 th
    • Terutama pada wanita usia subur dengan riwayat pajanan sinar matahari

    Klasifikasi berdasarkan gambaran klinis :
    1. Sentro-fasial => meliputi dahi, hidung, medial pipi, bawah hidung, dagu (63%)
    2. Malar => di hidung, lateral pipi (21%)
    3. Mandibular => di daerah mandibula (16%)
    Klasifikasi berdasar pemeriksaan wood lamp
    • Tipe Epidermal => melasma tampak lebih jelas dengan sinar wood dari pada sinar biasa
    • Tipe Dermal => dengan sinar wood, tidak tampak warna yang menjadi lebih kontras.
    • Tipe campuran => di beberapa lokasi lesi tampak lebih jelas, sedangkan lainnya tidak jelas
    • Tipe sukar dinilai karena warna kulit gelap. Dengan sinar wood lesi menjadi tidak jelas, sedangkan dengan sinar biasa jelas.
    Klasifikasi ini berarti pada saat pemberian terapi karena prognosisnya berbeda-beda. Tipe dermal lebih sulit diobati dari pada tipe epidermal.
    Klasifikasi berdasar histopatologi
    • Melasma tipe epidermal => umumnya berwarna coklat, melanin terutama terdapat pada lapisan basal dan suprabasal, kadang-kadang di seluruh stratum korneum dan stratum spinosum.
    • Melasma tipe dermal => berwarna coklat kebiruan, terdapat makrofag bermelanin di sekitar pembuluh darah di dermis bagian atas dan bawah, pada dermis bagian atas terdapat fokus infiltrat.

    Etiologi dan Patogenesis
    • Idiopatik
    • Paparan sinar matahari (paling banyak berperan)
      Enzim tirosinase membantu pembentukan pigmen. Bila terpapar sinar matahari (Sinar Ultraviolet), enzim tirosinase yang terkontrol menjadi tidak dihambat lagi sehingga memacu proses melanogenesis.
    • Hormon : progesteron, estrogen, dan MSH (Melanin Stimulating Hormone) berperan dalam pembentukan melasma. Pada kehamilan (peningkatan hormon), melasma (kloasma gravidarum) meluas pada trimester ke 3. Pada pemakaian pil KB, melasma mulai tampak pada 2 bulan-1 tahun pertama sejak pemakaian.
    • Obat : difenil hidantoin, mesantoin, klorpromasin, sitostatik, minosiklin (obat acne) akibatkan melasma. Obat ini ditimbun pada lapisan dermis bagian atas dan secara kumulatif dapat merangsang melanogenesis.
    • Genetik : dilaporkan kasus keluarga 20-70%.
    • Kosmetik : pemakaian kosmetik yang mengandung parfum, zat pewarna, atau bahan tertentu dapat mengakibatkan fotosensitivitas sehingga terjadi hiperpigmentasi pada wajah jika terpajan matahari.

    Gejala Klinis
    • Terdapat makula berbatas tegas yang tidak merata berwarna coklat muda sampai coklat tua.
    • Warna keabu-abuan atau kebiru-biruan terutama pada tipe dermal

    Diagnosis
    • Anamnesis => usia, onset, gejala klinis, faktor predisposisi
    • Pemeriksaan :
      1. Histopatologi
        • Tipe epidermal
          melanin terutama terdapat pada lapisan basal dan suprabasal, kadang-kadang di seluruh stratum korneum dan stratum spinosum.
        • Tipe dermal
          terdapat makrofag bermelanin di sekitar pembuluh darah di dermis bagian atas dan bawah, pada dermis bagian atas terdapat fokus infiltrat.
      2. Mikroskop elektron
        Gambaran ultrastruktur melanosit dalam lapisan basal memberi kesan aktivitas melanosit meningkat.
      3. Wood lamp
        • Tipe epidermal => warna lesi tampak lebih jelas
        • Tiper dermal => warna lesi tidak bertambah kontras
        • Tipe campuran => ada lesi yang bertambah kontras dan ada yang tidak
        • Tipe tidak jelas => dengan sinar wood lesi menjadi tidak jelas, dengan sinar biasa menjadi jelas.
    Diagnosis dapat ditegakkan dengan gambaran klinis. Untuk menentukan tipe melasma dapat dilakukan pemeriksaan Wood. Pemeriksaan histopatologik hanya dilakukan pada saat-saat tertentu

    Tatalaksana
    • Pengobatannya lama, yang berperan : kontrol teratur dan pengobatan yang sempurna (pengobatan kausal), kerja sama yang baik antara dokter dan pasien.
    • Pencegahan :
      1. Hindari paparan sinar matahari, terutama pukul 09:00 - 15:00. Kalau keluar rumah, sebaiknya menggunakan payung atau topi.
      2. Menggunakan tabir surya
        • Tabir surya fisis => bahan yang memantulkan/ menghamburkan sinar UV
          cth : titanium dioksida, seng oksida, kaolin
        • Tabir surya kimiawi => bahan yang menyerap sinar UV, seperti :
          • mengandung PABA (Para Amino Benzoic Acid) atau derivatnya, seperti octil PABA
          • tidak mengandung PABA, seperti : bensofenon, sinamat, salisilat, antranilat
      3. Menghilangkan faktor penyebab melasma : pil kb, hentikan penggunaan kosmetik berparfum dan berwarna, cegah obat-obatan yang picu melasma.
    • Pengobatan : mengurangi pertambahan jumlah dan warna melasma.
      1. Topikal
        • Merkuri => cara kerja terbaik. Tapi efek samping SANGAT BESAR.
        • Hidrokinon 2-5%
          Berupa krim malam, ditambah dengan tabir surya pada siang hari, akan tampak perbaikan  dalam 6-8 minggu dan dilanjutkan sampai 6 bulan.
          Efek samping : dermatitis kontak iritan atau alergi.
          Bila dilakukan penghentian obat, maka akan sering timbul kekambuhan bahkan flek yang terbentuk lebih hitam. Obat ini sudah perlahan-lahan ditinggalkan walau masih tetap digunakan.
        • Asam Retinoat (Retinoic Acid/ Tretinoin) 0,1% => untuk keremajaan kulit.
          Terutama digunakan sebagai terapi kombinasi atau tambahan. Krimnya dipakai malam hari, karena kalau siang hari akan terjadi fotodegradasi.
          Kini asam retinoat dipakai sebagai monoterapi dan didapat perbaikan klinis secara bermakna meskipun agak lambat.
          Efek samping : eritema, deskuamasi, fotosensitasi.
          Gatal, eritema => dirasakan di awal sampai terjadi penyesuaian.
        • Asam Azeleat (Azeleic Acid) 20% => obat aman. Digunakan dalam 6 bulan dan memberikan hasil yang baik.
          Efek samping : panas dan gatal
      2. Sistemik
        • Asam Askorbat/ Vitamin C
          Vit C mengubah melanin menjadi melanin bentuk reduksi yang berwarna lebih cerah dan mencegah pembentukan melanin dengan mengubah DOPA kinon menjadi DOPA
        • Glutation
          Glutation bentuk reduksi adalah senyawa gulfhidril (SH) yang berpotensi menghambat pembentukan melanin dengan jalan bergabung dengan Cuprum dari tirosinase.
      3. Tindakan khusus (oleh spesialis)
        • Pengelupasan kimiawi
          Dilakukan dengan mengoleskan asam glikolat 50-70% selama 4-6 menit setiap 3 minggu 6 kali. Sebelum dilakukan pengelupasan, pasien diberi krim asam glikolat 10% selama 14 hari.
          Bila memang ada bakal melasma, maka hasilnya akan tetap kurang bagus.
        • Bedah Laser
          Menggunakan laser Q-Switched Ruby dan LAser Argon. Tapi kekambuhan dapat juga terjadi.

    Komplikasi
    • Bila salah pengobatan atau menggunakan obat yang sudah tidak digunakan lagi, contoh pada penggunaan Hidrokinon, Merkuri, dll

    Prognosis
    • Pengobatannya lama karena kelainan kulit ini bersifat kronik residif sehingga dibutuhkan kesabaran dan kerja sama antara dokter dan pasien. Prognosis baik bila pengobatan dilakukan dengan benar dan teratur.

    Pola pikir
    • Bila ada pasien mengeluh bercak gelap pada wajah => periksa dan anamnesis penyebabnya => Bila diagnosis sementara adalah melasma => rujuk dan lakukan pemeriksaan penunjang => bila sudah terdiagnosis melasma => tatalaksana => prognosis baik bila pengobatan dan pencegahan dilakukan sejalan.


    Sumber
    Djuanda, Adhi dkk. 2007. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta : Balai Penerbit FKUI.
    Gambar (c) google
    Kuliah pengantar BLOK 3.6 FK UNAND

    Read More..

    Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO
    8

    Anatomi Dan Fisiologi Kulit

    ni Minggu, 03 Juni 2012



    ANATOMI KULIT
    Kulit merupakan pembatas tubuh dengan lingkungan sekitar karena posisinya yang terletak di bagian  paling luar. Luas kulit dewasa 1,5 m2 dengan berat kira-kira 15% berat badan.

    Klasifikasi berdasar :
    1. Warna :
      • terang (fair skin), pirang, dan hitam
      • merah muda : pada telapak kaki dan tangan bayi
      • hitam kecokelatan : pada genitalia orang dewasa
    2. Jenisnya :
      • Elastis dan longgar : pada palpebra, bibir, dan preputium
      • Tebal dan tegang : pada telapak kaki dan tangan orang dewasa
      • Tipis : pada wajah
      • Lembut : pada leher dan badan
      • Berambut kasar : pada kepala
    Klik untuk perbesar gambar
    Anatomi kulit secara histopatologik
    1. Lapisan Epidermis (kutikel)
      Klik gambar untuk perbesar
      • Stratum Korneum (lapisan tanduk)
        => lapisan kulit paling luar yang terdiri dari sel gepeng yang mati, tidak berinti, protoplasmanya berubah menjadi keratin (zat tanduk)
      • Stratum Lusidum
        => terletak di bawah lapisan korneum, lapisan sel gepeng tanpa inti, protoplasmanya berubah menjadi protein yang disebut eleidin. Lapisan ini lebih jelas tampak pada telapak tangan dan kaki.
      • Stratum Granulosum (lapisan keratohialin)
        => merupakan 2 atau 3 lapis sel gepeng dengan sitoplasma berbutir kasar dan terdapat inti di antaranya. Butir kasar terdiri dari keratohialin. Mukosa biasanya tidak mempunyai lapisan ini.
      • Stratum Spinosum (stratum Malphigi) atau prickle cell layer (lapisan akanta )
        => terdiri dari sel yang berbentuk poligonal, protoplasmanya jernih karena banyak mengandung glikogen, selnya akan semakin gepeng bila semakin dekat ke permukaan. Di antara stratum spinosum, terdapat jembatan antar sel (intercellular bridges) yang terdiri dari protoplasma dan tonofibril atau keratin. Perlekatan antar jembatan ini membentuk penebalan bulat kecil yang disebut nodulus Bizzozero. Di antara sel spinosum juga terdapat pula sel Langerhans.
      • Stratum Basalis
        =>  terdiri dari sel kubus (kolumnar) yang tersusun vertikal pada perbatasan dermo-epidermal berbaris seperti pagar (palisade). Sel basal bermitosis dan berfungsi reproduktif.
        • Sel kolumnar => protoplasma basofilik inti lonjong besar, di hubungkan oleh jembatan antar sel.
        • Sel pembentuk melanin (melanosit) atau clear cell => sel berwarna muda, sitoplasma basofilik dan inti gelap, mengandung pigmen (melanosomes)
    2. Lapisan Dermis (korium, kutis vera, true skin) => terdiri dari lapisan elastik dan fibrosa pada dengan elemen-elemen selular dan folikel rambut.
      • Pars Papilare => bagian yang menonjol ke epidermis, berisi ujung serabut saraf dan pembuluh darah.
      • Pars Retikulare => bagian bawah yang menonjol ke subkutan. Terdiri dari serabut penunjang seperti kolagen, elastin, dan retikulin. Dasar (matriks) lapisan ini terdiri dari cairan kental asam hialuronat dan kondroitin sulfat, dibagian ini terdapat pula fibroblas. Serabut kolagen dibentuk oleh fibroblas, selanjutnya membentuk ikatan (bundel) yang mengandung hidroksiprolin dan hidroksisilin. Kolagen muda bersifat elastin, seiring bertambahnya usia, menjadi kurang larut dan makin stabil. Retikulin mirip kolagen muda. Serabut elastin biasanya bergelombang, berbentuk amorf, dan mudah mengembang serta lebih elastis.
    3. Lapisan Subkutis (hipodermis) => lapisan paling dalam, terdiri dari jaringan ikat longgar berisi sel lemak yang bulat, besar, dengan inti mendesak ke pinggir sitoplasma lemak yang bertambah. Sel ini berkelompok dan dipisahkan oleh trabekula yang fibrosa. Lapisan sel lemak disebut dengan panikulus adiposa, berfungsi sebagai cadangan makanan. Di lapisan ini terdapat saraf tepi, pembuluh darah, dan getah bening. Lapisan lemak berfungsi juga sebagai bantalan, ketebalannya berbeda pada beberapa kulit. Di kelopak mata dan penis lebih tipis, di perut lebih tebal (sampai 3 cm).
    Vaskularisasi di kuli diatur pleksus superfisialis (terletak di bagian atas dermis) dan pleksus profunda (terletak di subkutis) 

    Adneksa Kulit
    1. Kelenjar Kulit => terdapat pada lapisan dermis
      • Kelenjar Keringat (glandula sudorifera)
        Keringat mengandung air, elektrolit, asam laktat, dan glukosa. pH nya sekitar 4-6,8.
        • Kelenjar Ekrin => kecil-kecil, terletak dangkal di dermis dengan secret encer.
          Kelenjar Ekrin terbentuk sempurna pada minggu ke 28 kehamilan dan berfungsi 40 minggu setelah kelahiran. Salurannya berbentuk spiral dan bermuara langsung pada kulit dan terbanyak pada telapak tangan, kaki, dahi, dan aksila. Sekresi tergantung beberapa faktor dan saraf kolinergik, faktor panas, stress emosional.
        • Kelenjar Apokrin => lebih besar, terletak lebih dalam, secretnya lebih kental.
          Dipengaruhi oleh saraf adrenergik, terdapat di aksila, aerola mammae, pubis, labia minora, saluran telinga. Fungsinya belum diketahui, waktu lahir ukurannya kecil, saat dewasa menjadi lebih besar dan mengeluarkan secret
      • Kelenjar Palit (glandula sebasea)
        Terletak di seluruh permukaan kuli manusia kecuali telapak tangan dan kaki. Disebut juga dengan kelenjar holokrin karena tidak berlumen dan sekret kelenjar ini berasal dari dekomposisi sel-sel kelenjar. Kelenjar palit biasanya terdapat di samping akar rambut dan muaranya terdapat pada lumen akar rambut (folikel rambut). Sebum mengandung trigliserida, asam lemak bebas, skualen, wax ester, dan kolesterol. Sekresi dipengaruhi oleh hormon androgen. Pada anak-anak, jumlahnya sedikit. Pada dewasa menjadi lebih banyak dan berfungsi secara aktif.
    2. Kuku => bagian terminal lapisan tanduk (stratum korneum) yang menebal. Pertumbuhannya 1mm per minggu.
      • Nail root (akar kuku) => bagian kuku yang tertanam dalam kulit jari
      • Nail Plate (badan kuku) => bagian kuku yang terbuka/ bebas.
      • Nail Groove (alur kuku) => sisi kuku yang mencekung membentuk alur kuku
      • Eponikium => kulit tipis yang menutup kuku di bagian proksimal
      • Hiponikium => kulit yang ditutupi bagian kuku yang bebas
    3. Rambut
      • Akar rambut => bagian yang terbenam dalam kulit
      • Batang rambut => bagian yang berada di luar kulit
      Jenis rambut
      • Lanugo => rambut halus pada bayi, tidak mengandung pigmen.
      • Rambut terminal => rambut yang lebih kasar dengan banyak pigmen, mempunyai medula, terdapat pada orang dewasa.
      Pada dewasa, selain di kepala, terdapat juga bulu mata, rambut ketiak, rambut kemaluan, kumis, janggut yang pertumbuhannya dipengaruhi oleh androgen (hormon seks). Rambut halus di dahi dan badan lain disebut rambut velus.
      Rambut tumbuh secara siklik, fase anagen (pertumbuhan) b erlangsung 2-6 tahun dengan kecepatan tumbuh 0,35 mm perhari. Fase telogen (istirahat) berlangsung beberapa bulan. D antara kedua fase tersebut terdapat fase katagen (involusi temporer). Pada suatu saat 85% rambut mengalami fase anagen dan 15 % sisanya dalam fase telogen.
      Rambut normal dan sehat berkilat, elastis, tidak mudah patah, dan elastis. Rambut mudah dibentuk dengan memperngaruhi gugusan disulfida misalnya dengan panas atau bahan kimia.

    FUNGSI KULIT
    1. Fungsi Proteksi
      Kulit punya bantalan lemak, ketebalan, serabut jaringan penunjang yang dapat melindungi tubuh dari gangguan :
      • fisis/ mekanis : tekanan, gesekan, tarikan.
      • kimiawi : iritan seperti lisol, karbil, asam, alkali kuat
      • panas : radiasi, sengatan sinar UV
      • infeksi luar : bakteri, jamur
      Beberapa macam perlindungan :
      • Melanosit => lindungi kulit dari pajanan sinar matahari dengan mengadakan tanning (penggelapan kulit)
      • Stratum korneum impermeable terhadap berbagai zat kimia dan air.
      • Keasaman kulit kerna ekskresi keringat dan sebum => perlindungan kimiawo terhadap infeksi bakteri maupun jamur
      • Proses keratinisasi => sebagai sawar (barrier) mekanis karena sel mati melepaskan diri secara teratur.
    2. Fungsi Absorpsi => permeabilitas kulit terhadap O2, CO2, dan uap air memungkinkan kulit ikut mengambil fungsi respirasi. Kemampuan absorbsinya bergantung pada ketebalan kulit, hidrasi, kelembaban, metabolisme, dan jenis vehikulum. PEnyerapan dapat melalui celah antar sel, menembus sel epidermis, melalui muara saluran kelenjar.
    3. Fungsi Ekskresi => mengeluarkan zat yang tidak berguna bagi tubuh seperti NaCl, urea, asam urat, dan amonia. Pada fetus, kelenjar lemak dengan bantuan hormon androgen dari ibunya memproduksi sebum untuk melindungi kulitnya dari cairan amnion, pada waktu lahir ditemui sebagai Vernix Caseosa.
    4. Fungsi Persepsi => kulit mengandung ujung saraf sensori di dermis dan subkutis. Saraf sensori lebih banyak jumlahnya pada daerah yang erotik.
      • Badan Ruffini di dermis dan subkutis => peka rangsangan panas
      • Badan Krause di dermis => peka rangsangan dingin
      • Badan Taktik Meissner di papila dermis => peka rangsangan rabaan
      • Badan Merkel Ranvier di epidermis => peka rangsangan rabaan
      • Badan Paccini di epidemis => peka rangsangan tekanan
    5. Fungsi Pengaturan Suhu Tubuh (termoregulasi) => dengan cara mengeluarkan keringat dan mengerutkan (otot berkontraksi) pembuluh darah kulit. Kulit kaya pembuluh darah sehingga mendapat nutrisi yang baik. Tonus vaskuler dipengaruhi oleh saraf simpatis (asetilkolin). Pada bayi, dinding pembuluh darah belum sempurna sehingga terjadi ekstravasasi cairan dan membuat kulit bayi terlihat lebih edematosa (banyak mengandung air dan Na)
    6. Fungsi Pembentukan Pigmen => karena terdapat melanosit (sel pembentuk pigmen) yang terdiri dari butiran pigmen (melanosomes)
    7. Fungsi Keratinisasi => Keratinosit dimulai dari sel basal yang mengadakan pembelahan, sel basal yang lain akan berpindah ke atas dan berubah bentuknya menjadi sel spinosum, makin ke atas sel makin menjadi gepeng dan bergranula menjadi sel granulosum. Makin lama inti makin menghilang dan keratinosit menjadi sel tanduk yang amorf. Proses ini berlangsung 14-21 hari dan memberi perlindungan kulit terhadap infeksi secara mekanis fisiologik.
    8. Fungsi Pembentukan Vitamin D => kulit mengubah 7 dihidroksi kolesterol dengan pertolongan sinar matahari. Tapi kebutuhan vit D tubuh tidak hanya cukup dari hal tersebut. Pemberian vit D sistemik masih tetap diperlukan.

    Sumber
    Gambar (c) Google
    Djuanda, Adhi, dkk. 2007. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta : Balai Penerbit FKUI.
    Read More..

    Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO
     
    Copyright 2010 Catatan Mahasiswa FK